Minggu, 05 Mei 2013

TULISAN 2 PEREKONOMIAN INDONESIA


JUDUL          :  KEADAAN KURS RUPIAH DI INDONESIA

PENDAHULUAN
          Menurut Musdholifah & Tony (2007), nilai tukar atau kurs adalah perbandingan antara harga mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain. Misal kurs rupiah terhadap dollar Amerika menunjukkan berapa rupiah yang diperlukan untuk ditukarkan dengan satu dollar Amerika.
          Menurut Triyono (2008), kurs (exchange rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut.
          Jadi, dapat disimpulkan nilai tukar rupiah adalah suatu perbandingan antara nilai mata uang suatu negara dengan negara lain. Heru (2008) menyatakan bahwa nilai tukar mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang asing $US. Merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing $US sebagai alat pembayaran internasional. Semkin menguat kurs rupiah sampai batas tertentu berarti menggambarkan kinerja di pasar uang semakin menunjukkan perbaikan. Sebagai dampak meningkatnya laju inflasi maka nilai tukar domestic semakin melemah terhadap mata uang asing. Hal ini mengakibatkan menurunnya kinerja suatu perusahaan dan investasi di pasar modal menjadi berkurang.
          Heru (2008) menyatakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing pun mempunyai pengaruh negatif terhadap ekonomi dan pasar modal. Dengan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing akan mengakibatkan meningkatnya biaya impor bahan-bahan baku yang akan digunakan untuk produksi dan juga meningkatkan suku bunga. Walaupun menurunnya nilai tukar juga dapat mendorong perusahaan untuk melakukan ekspor.




ISI
          Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tanggal 19 April 2013 bergerak stabil merespon masih masuknya dana asing menyusul positifnya ekspektasi pelaku pasar terhadap ekonomi Indonesia. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah empat poin menjadi Rp 9.712 dibanding posisi sebelumnya Rp 9.708 per dolar AS.

          Analis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan dana asing yang masuk ke pasar saham yang sudah mencapai 1,8 miliar dolar AS sepanjang tahun ini merupakan salah satu faktor nilai tukar stabil. Ia menambahkan revisi pertumbuhan ekonomi global oleh lembaga dana moneter internasional (IMF) dari 3,5 persen menjadi 3,2 persen tidak berpengaruh terhadap ekpektasi pertumbuhan ekonomi domestik. IMF tetap memproyeksikan ekonomi Indonesia bisa tumbuh sebesar antara enam persen-6,3 persen untuk tahun 2013 dengan faktor utama masih tingginya permintaan domestik.
 
          Analis Trust Securities, Reza Priyambada menambahkan pergerakan nilai tukar rupiah hanya melemah tipis setelah merespon pernyataan salah satu pejabat tinggi bank sentral Eropa (ECB) yang mendukung rencana menurunkan tingkat suku bunga jika kondisi ekonomi semakin terpuruk. Di sisi lain, ECB juga berencana menurunkan nilai mata uang euro agar dapat meningkatkan daya saing ekspor di kawasan Eropa turut mendapat respon negatif dari domestik. Ia memperkirakan nilai tukar masih dapat bergerak positif seiring dengan Bank Indonesia (BI) yang tetap mengintervensi sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri.
          Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tanggal 22 april 2013  melemah seiring dengan negatifnya beberapa mata uang Asia. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 30 poin menjadi Rp 9.775 dibanding posisi sebelumnya Rp 9.745 per dolar AS.

          Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Ruly Nova mengatakan bahwa beberapa kalangan analis menilai, ekonomi AS masih dapat tumbuh meski sebagian data indikator ekonominya mengalami perlambatan. Ekspektasi itu mendorong dolar AS kembali menguat. Meski demkian, ia menambahkan nilai tukar domestik masih dapat kembali menguat seiring fundamental ekonomi Indonesia yang positif dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 6,2 persen-6,5 persen. Selain itu, lanjut dia, Bank Indonesia (BI) juga akan masih menjaga fluktuasi nilai tukar domestik di pasar uang agar tetap stabil.

          Ruly juga mengatakan pemerintah yang sedang merencanakan untuk menaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi roda empat akan dapat membantu defisit neraca perdagangan menurun. Dengan defisit neraca yang turun maka diharapkan dapat membuat nilai tukar rupiah bergerak positif, selama ini salah satu pendorong kurs domestik melemah yakni defisit neraca perdagangan. Menurut dia, migas merupakan salah satu faktor terjadinya defisit neraca perdagangan dalam negeri. Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih memproyeksikan nilai tukar rupiah diperkirakan ada potensi menguat menjelang lelang surat utang negara (SUN). Rencana lelang SUN biasanya akan direspon dengan penguatan rupiah.
          Positifnya ekonomi Indonesia menahan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tanggal 23 april 2013 . Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar tujuh poin menjadi Rp 9.715 dibanding posisi sebelumnya Rp 9.708 per dolar AS.

          Analis Trust Securities, Reza Priyambada menyatakan bahwa Rupiah melemah tipis tertahan ekonomi Indonesia yang masih positif. Rupiah kembali melemah dipicu kondisi eksternal yang masih negatif setelah pertemuan G-20 tidak mensinyalkan adanya pertentangan terhadap kebijakan stimulus Jepang.
Ia menilai dengan penurunan mata uang yen maka memberikan kesempatan bagi dolar AS untuk menguat dimana sebelumnya sempat melemah karena ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan program pembelian obligasi. Ia menambahkan pelemahan rupiah juga masih terbatas menyusul data penanaman modal asing (PMA) Indonesia untuk kuartal pertama 2013 yang menunjukkan kenaikan 27,2 persen (year on year) menjadi 6,7 miliar dolar AS. Data-data AS yang tidak memperlihatkan kemajuan atau masih dalam perlambatan akan menekan dolar AS sehingga potensi penguatan rupiah masih cukup besar.

          Ekonom Lana Soelistianingsih menambahkan BKPM mencatat realisasi investasi untuk triwulan pertama 2013 mencapai Rp 93 triliun atau naik 30,6 persen dibanding periode sama tahun lalu. Naiknya investasi ini membuat ekspektasi pertumbuhan ekonomi periode itu masih cukup tinggi antara 6,2 persen-6,3 persen.  Ia mengemukakan dominasi PMA mencapai 70,4 persen sedangkan sisanya hampir 30 persen adalah penanaman modal dalam negeri (PMDN), dengan alokasi investasi di luar Jawa mencapai 48 persen sedangkan 52 persen masih di Jawa.
          Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pada tanggal 24 April 2013 , bergerak melemah terpengaruh sentimen negatif dari global. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 12 poin menjadi Rp 9.727 dibanding posisi sebelumnya Rp 9.715 per dolar AS.

          Analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah cenderung dipicu eksternal yang cenderung negatif. Namun, pelemahan kurs domestik itu masih tertahan oleh kenaikan investasi langsung luar negeri ke Indonesia yang naik pada kuartal pertama tahun ini. Ia mengemukakan bahwa investasi langsung luar negeri di Indonesia naik sebesar 27,2 persen menjadi 6,7 miliar dolar AS, dibanding kuartal pertama di 2012. Ia menilai sentimen negatif global masih membayangi nilai tukar domestik untuk menguat.  Penurunan indeks manufaktur Cina dan Jerman menjadi salah satu faktor negatif bagi pasar uang di dalam negeri. Kondisi itu membuat pelaku pasar menjadi pesimis terhadap upaya pemulihan lebih lanjut di semester I tahun ini. Selain itu, lanjut dia, sentimen negatif tambahan dari kondisi politik di Italia yang masih kurang stabil juga akan membuat nilai tukar euro tertekan terhadap dolar AS sehingga berdampak ke rupiah. Meski demikian, Reza mengatakan , beberapa data ekonomi AS yang tidak memperlihatkan kemajuan atau masih dalam perlambatan dapat menjadi sentimen negatif bagi dolar AS sehingga potensi penguatan rupiah masih ada ke depannya.
Penutup
KESIMPULAN
          Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tanggal 25 April 2013 bergerak menguat tipis menyusul penjagaan Bank Indonesia (BI) di tengah kondisi ekonomi eksternal yang masih negatif. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat nilainya sebesar dua poin menjadi Rp 9.715 dibanding posisi sebelumnya tanggal 24 April 2013 di Rp 9.717 per dolar AS.

          Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Ruly mengatakan bahwa Bank Indonesia masih akan menjaga mata uang domestik agar tetap bergerak stabil. Diperkirakan BI menjaga nilai tukar domestik di kisaran Rp 9.650-Rp 9.750 per dolar AS. Menurutnya, aksi BI itu menyusul kondisi ekonomi global yang cenderung masih melambat sehingga membuat kurs rupiah berada dalam tren pelemahan. Dari dalam negeri sendiri cenderung positif meski neraca perdagangan defisit. Namun pemerintah sedang mengupayakan untuk menekan defisitnya salah satunya dengan mengendalikan harga BBM bersubsidi.  Ia menambahkan hasil lelang surat berharga negara (SBN) yang mencatatkan hasil yang positif atau melebihi permintaan sebanyak 3,2 kali juga dapat menahan tren pelemahan rupiah.

          Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertahan oleh sentimen negatif dari politik Italia dan pelemahan data ekonomi Jerman. "Hasil survey menunjukkan sentimen bisnis di Jerman merosot untuk bulan ke dua berturut-turut pada bulan April, sehingga memicu kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi terbesar di blok Euro itu.

DAFTAR PUSTAKA
Republika.com 23-25 April 2013
Wikipedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar