PERKEMBANGAN
BAHASA INDONESIA
Makalah disusun untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia 2
Dosen :Budi Santoso, SS
Oleh,
Arrafah Marzuqoh (28212115)
Fachmi Putri R (22212592)
Nur Anna Rizki T (25212446)
Verany Dwi Puji A (27212562)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami
ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada
Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah
ini berisikan tentang perkembangan
Bahasa Indonesia.
Kami
menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna.Oleh karena itu, apabila
ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat
berterima kasih.
Demikian
makalah ini kami susun.Semoga dapat berguna untuk kita semua.Amin.
Bekasi,
Desember 2014
Penulis
i.
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR...……………………………………………….………........
i
DAFTAR
ISI…………………………………………………………….………..…. ii
BAB
I PENDAHULUAN………………………………….………………..…. 1
1.1.
Latar Belakang...………………………………………………….……….….…
1
1.2.
Rumusan
Masalah………………………............................................................. 1
1.2.
Tujuan
Penulisan.………………………..………................................................ 2
BAB
II PEMBAHASAN...……...…………….……………………………...….. 3
2.1.
sejarah
perkembangan Bahasa Indonesia pada masa
prakemerdekaan………………………………………………………………............. 3
2.2.
sejarah
perkembangan Bahasa Indonesia pada masa
pascakemerdekaan………………4
2.3.
Peristiwa-peristiwa
yang mempengaruhi perkermbangan bahasa
Indonesia…………………………………………………………….………….......... 5
2.4.
sejarah
ejaan Bahasa Indonesia (Ejaan Yang
Disempurnakan)…………..…….......... 7
2.5.
perkembangan
Bahasa Indonesia pada masa reformasi………………………...……. 9
2.6.
kedudukan
dan fungsi Bahasa Indonesia……………...…………………….….......... 9
BAB
III
PENUTUP…………………………………..….……………………….....10
3.1.
Kesimpulan& Saran...…………………..……………..………………………..….10
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………...………………..….11
i.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Bahasa
merupakan suatu alat komunikasi yang disampaikan seseorang kepada orang lain
agar bisa mengetahui apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Pentingnya bahasa
sebagai identitas manusia, tidak bisa dilepaskan dari adanya pengakuan manusia
terhadap pemakaian bahasa dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.Untuk
menjalankan tugas kemanusiaan, manusia hanya punya satu alat, yakni bahasa.
Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan apa yang ada di benak mereka.
Sesuatu yang sudah dirasakan sama dan serupa dengannya, belum tentu terasa
serupa, karena belum terungkap dan diungkapkan. Hanya dengan bahasa, manusia
dapat membuat sesuatu terasa nyata dan terungkap.
Era
globalisasi dewasa ini mendorong perkembangan bahasa secara pesat, terutama
bahasa yang datang dari luar atau bahasa Inggris.Bahasa Inggris merupakan
bahasa internasional yang digunakan sebagai pengantar dalam berkomunikasi antar
bangsa. Dengan ditetapkannya Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional
(Lingua Franca), maka orang akan cenderung memilih untuk menguasai Bahasa
Inggris agar mereka tidak kalah dalam persaingan di kancah internasional
sehingga tidak buta akan informasi dunia. Tak dipungkiri memang pentingnya
mempelajari bahasa asing, tapi alangkah jauh lebih baik bila kita tetap
menjaga, melestarikan dan membudayakan Bahasa Indonesia.Karena seperti yang
kita ketahui, bahasa merupakan idenditas suatu bangsa.Untuk memperdalam
mengenai Bahasa Indonesia, kita perlu mengetahui bagaimana perkembangannya
sampai saat ini sehingga kita tahu mengenai bahasa pemersatu dari berbagai suku
dan adat-istiadat yang beranekaragam yang ada di Indonesia, yang termasuk kita
di dalamnya.Maka dari itu melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan
tentang perkembangan bahasa Indonesia.
1.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam pembahasan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1.
Bagaimana sejarah perkembangan
Bahasa Indonesia pada masa prakemerdekaan?
2.
Bagaimana sejarah perkembangan
Bahasa Indonesia pada masa pascakemerdekaan?
3.
Apa saja peristiwa-peristiwa yang
mempengaruhi perkermbangan bahasa Indonesia?
4.
Bagaimana sejarah ejaan Bahasa
Indonesia (Ejaan Yang Disempurnakan)?
5.
Bagaimana Perkembangan Bahasa
Indonesia pada masa reformasi?
6.
Bagaimana kedudukan dan fungsi Bahasa
Indonesia?
1.
1.2.
Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut
:
1.
Untuk mengetahui sejarah
perkembangan Bahasa Indonesia pada masa prakemerdekaan
2.
Untuk mengetahui sejarah
perkembangan Bahasa Indonesia pada masa pascakemerdekaan
3.
Untuk mengetahui Peristiwa-peristiwa
yang mempengaruhi perkermbangan bahasa Indonesia
4.
Untuk mengetahui sejarah ejaan
Bahasa Indonesia (Ejaan Yang Disempurnakan)
5.
Untuk mengetahui perkembangan Bahasa
Indonesia pada masa reformasi
6.
Untuk mengetahui kedudukan dan
fungsi Bahasa Indonesia
2.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa
Prakemerdekaan
Pada
dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.Pada zaman Sriwijaya,
bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan
sebagai bahasa yang di gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam
Nusantara dan dari luar Nusantara.
Perkembangan
dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai
peninggalan-peninggalan misalnya:
o
Tulisan yang terdapat pada batu
Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380.
o
Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang
pada tahun 683.
o
Prasasti Talang Tuo, di Palembang
pada Tahun 684.
o
Prasasti Kota Kapur, di Bangka
Barat, pada Tahun 686.
o
Prasati Karang Brahi Bangko,
Merangi, Jambi, pada Tahun 688.
Dan
pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:
1.
Bahasa kebudayaan yaitu bahasa
buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.
2.
Bahasa perhubungan (Lingua Franca)
antar suku di indonesia
3.
Bahasa perdagangan baik bagi suku
yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar indonesia.
4.
Bahasa resmi kerajaan.
Bahasa
melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam
di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya
karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa
perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar
kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan
mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh
karena itu para pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan
secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia menjadi bahasa
persatuan untuk seluruh bangsa indonesia. (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).
Ada
empat faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia
yaitu :
1.
Bahasa melayu sudah merupakan lingua
franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
2.
Sistem bahasa Melayu sederhana,
mudah dipelajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa
(bahasa kasar dan bahasa halus).
3.
4.
Suku jawa, suku sunda dan suku suku
yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional.
5.
Bahasa melayu mempunyai kesanggupan
untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Pada
abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu
karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu
Tinggi.Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar
Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.
Pada
akhir abad ke-19 pemerintah kolonial Hindia-Belanda melihat bahwa bahasa Melayu
(Tinggi) dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai
pribumi.Pada periode ini mulai terbentuklah “bahasa Indonesia” yang secara
perlahan terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.Bahasa Melayu di
Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun
pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu.Bahasa ibu
masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.
Pada
pertengahan 1800-an, Alfred Russel Wallace menuliskan di bukunya Malay
Archipelago bahwa “penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang
bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain,
sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh
dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia
Belanda.”
Pada
awal abad ke-20, bahasa Melayu pecah menjadi dua.Di tahun 1901, Indonesia di
bawah Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen sedangkan pada tahun 1904 Malaysia
di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.
2.2.
Sejarah
Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa Pascakemerdekaan
Berhubung
dengan menyebar Bahasa Melayu ke pelosok nusantara bersamaan dengan menyebarnya
agama islam di wilayah nusantara. Serta makin berkembang dan bertambah kokoh
keberadaannya, karena bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat nusantara
sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar
bangsa dan antar kerajaan.
Perkembangan
bahasa Melayu di wilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa
persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia oleh karena itu para pemuda
Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat
bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan untuk
seluruh bangsa Indonesia.
4.
Bahasa
Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari
berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:
1.
Kami Putra dan Putri Indonesia
mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
2.
Kami Putra dan Putri Indonesia
mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
3.
Kami Putra dan Putri Indonesia
mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar
para pemuda ini di kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Unsur yang ketiga dari
“Sumpah Pemuda” merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa indonesia merupakan
bahasa persatuan bangsa indonesia. Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan
kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia di nyatakan kedudukannya
sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu
Undang-Undang Dasar 1945 di sahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia. Di dalam UUD 1945 di sebutkan bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa
Indonesia,(pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa indonesia secara
konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa indonesia di pakai oleh
berbagai lapisan masyarakat indonesia.
2.3.
Peristiwa-peristiwa
yang mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia
1. Budi
Otomo.
Pada
tahun 1908, Budi Utomo yang merupakan organisasi yang bersifat kenasionalan
yang pertama berdiri dan tempat terhidupnya kaum terpelajar bangsa Indonesia,
dengan sadar menuntut agar syarat-syarat untuk masuk ke sekolah Belanda
diperingan. Pada kesempatan permulaan abad ke-20, bangsa Indonesia asyik
dimabuk tuntutan dan keinginan akan penguasaan bahasa Belanda sebab bahasa
Belanda merupakan syarat utama untuk melanjutkan pelajaran menambang ilmu
pengetahuan barat.
2. Sarikat
Islam.
Sarekat
islam berdiri pada tahun 1912. mula-mula partai ini hanya bergerak dibidang
perdagangan, namun bergerak dibidang sosial dan politik juga. Sejak berdirinya,
sarekat islam yang bersifat non kooperatif dengan pemerintah Belanda dibidang
politik tidak pernah mempergunakan bahasa Belanda. Bahasa yang mereka
pergunakan ialah bahasa Indonesia.
5.
3. Balai
Pustaka.
Dipimpin
oleh Dr. G.A.J. Hazue pada tahun 1908 balai pustaka ini didirikan.Mulanya badan
ini bernama Commissie Voor De Volkslectuur, pada tahun 1917 namanya berubah
menjadi balai pustaka.Selain menerbitkan buku-buku, balai pustaka juga
menerbitkan majalah.
Hasil
yang diperoleh dengan didirikannya balai pustaka terhadap perkembangan bahasa
melau menjadi bahasa Indonesia dapat disebutkan sebagai berikut :
1.
Meberikan kesempatan kepada
pengarang-pengarang bangsa Indonesia untuk menulis cerita ciptanya dalam bahasa
melayu.
2.
Memberikan kesempatan kepada rakyat
Indonesia untuk membaca hasil ciptaan bangsanya sendiri dalam bahasa melayu.
3.
Menciptakan hubungan antara
sastrawan dengan masyarakat sebab melalui karangannya sastrawan melukiskan
hal-hal yang dialami oleh bangsanya dan hal-hal yang menjadi cita-cita
bangsanya.
4.
Balai pustaka juga memperkaya dan
memperbaiki bahasa melayu sebab diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh
karangan yang akan diterbitkan di balai pustaka ialah tulisan dalam bahasa
melayu yang bersusun baik dan terpelihara.
4. Sumpah
Pemuda.
Kongres
pemuda yang paling dikenal ialah kongres pemuda yang diselenggarakan pada tahun
1928 di Jakarta. Pada hal sebelumnya, yaitu tahun 1926, telah pula diadakan
kongres p[emuda yang tepat penyelenggaraannya juga di Jakarta. Berlangsung
kongres ini tidak semata-mata bermakna bagi perkembangan politik, melainkan
juga bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.
Dari
segi politik, kongres pemuda yang pertama (1926) tidak akan bisa dipisahkan
dari perkembangan cita-cita atau benih-benih kebangkitan nasional yang dimulai
oleh berdirinya Budi Utomo, sarekat islam, dan Jon Sumatrenan Bond. Tujuan
utama diselenggarakannya kongres itu adalah untuk mempersatukan berbagai
organisasi kepemudaan pada waktu itu.
Pada
tahun itu organisasi-organisasi pemuda memutuskan bergabung dalam wadah yang
lebih besar Indonesia muda.Pada tanggal 28 Oktober 1928 organisasi pemuda itu
mengadakan kongres pemuda di Jakarta yang menghasilkan sebuah pernyataan
bersejarah yang kemudian lebih dikenal sebagai sumpah pemuda.Pertanyaan bersatu
itu dituangkan berupa ikrar atas tiga hal, Negara, bangsa, dan bahasa yang satu
dalam ikrar sumpah pemuda.
Peristiwa ini dianggap sebagai awal permulaan bahasa Indonesia yang sebenarnya, bahasa Indonesia sebagai media dan sebagai symbol kemerdekaan bangsa.
Peristiwa ini dianggap sebagai awal permulaan bahasa Indonesia yang sebenarnya, bahasa Indonesia sebagai media dan sebagai symbol kemerdekaan bangsa.
6.
Pada
waktu itu memang terdapat beberapa pihak yang peradaban modern. Akan tetapi,
tidak bisa dipumgkiri bahwa cita-cita itu sudah menjadi kenyataan, bahasa
Indonesia tidak hanya menjadi media kesatuan, dan politik, melainkan juga
menjadi bahasa sastra indonesia baru.
2.4.
Sejarah
Perkembangan EYD
Ejaan
merupakan cara atau aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu
bahasa. Dengan adanya ejaan diharapkan para pemakai menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar sesuai aturan-aturan yanga ada. Sehingga
terbentuklah kata dan kalimat yang mudah dan enak didengar dan dipergunankan
dalam komonikasi sehari hari. Sesuai dengan apa yang telah diketahui bahwa
penyempurnaan ejaan bahsa Indonesia terdiri dari:
1.
Ejaan van Ophuijsen
Ejaan
ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin.Charles Van Ophuijsen yang
dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun
ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal
dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun
1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:
1.
Huruf ï untuk membedakan antara
huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan
diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y
seperti dalam Soerabaïa.
2.
Huruf j untuk menuliskan kata-kata
jang, pajah, sajang, dsb.
3.
Huruf oe untuk menuliskan kata-kata
goeroe, itoe, oemoer, dsb.
4.
Tanda diakritik, seperti koma ain
dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.
5.
Ejaan Soewandi
Ejaan
Soewandi adalah ketentuan ejaan dalam Bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17
Maret 1947. Ejaan ini kemudian juga disebut dengan nama edjaan Soewandi,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu. Ejaan ini mengganti ejaan
sebelumnya, yaitu Ejaan Van Ophuijsen yang mulai berlaku sejak tahun 1901.
1.
Huruf oe diganti dengan u pada
kata-kata guru, itu, umur, dsb.
2.
Bunyi hamzah dan bunyi sentak
ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
3.
Kata ulang boleh ditulis dengan
angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
4.
Awalan di- dan kata depan di
kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
7.
Perbedaan-perbedaan
antara ejaan ini dengan ejaan Van Ophuijsen ialah:
1.
huruf ‘oe’ menjadi ‘u’, seperti pada
goeroe → guru.
2.
bunyi hamzah dan bunyi sentak yang
sebelumnya dinyatakan dengan (‘) ditulis dengan ‘k’, seperti pada kata-kata
tak, pak, maklum, rakjat.
3.
kata ulang boleh ditulis dengan
angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.
4.
awalan ‘di-’ dan kata depan ‘di’
kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’
pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-’ pada dibeli,
dimakan.
Ejaan
Soewandi ini berlaku sampai tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) pada masa menteri Mashuri Saleh. Pada masa jabatannya
sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 23 Mei 1972 Mashuri mengesahkan
penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia yang menggantikan
Ejaan Soewandi. Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan
mencopot nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari
Djl. Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.
3.
Ejaan Yang Disempurnakan
Ejaan
Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun
1972.Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan
Soewandi. Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh
Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama
tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati
oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang
Disempurnakan.Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No.
57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu
Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.Di Malaysia ejaan baru
bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Selanjutnya Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul
“Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.
Pada
tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih
luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya
No. 0196/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”.
8.
Perbedaan-perbedaan
antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
‘tj’ menjadi
‘c’ : tjutji
→ cuci
‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak → jarak
‘oe’menjadi‘u’: oemoem → umum
‘j’menjadi‘y’:sajang→ sayang
‘nj’menjadi‘ny’:njamuk→ nyamuk
‘sj’menjadi‘sy’:sjarat→ syarat
‘ch’menjadi ‘kh’:achir→ akhir
awalan ‘di-’ dan kata depan ‘di’ dibedakan penulisannya. Kata depan ‘di’ pada contoh “di rumah”, “di sawah”, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara ‘di-’ pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak → jarak
‘oe’menjadi‘u’: oemoem → umum
‘j’menjadi‘y’:sajang→ sayang
‘nj’menjadi‘ny’:njamuk→ nyamuk
‘sj’menjadi‘sy’:sjarat→ syarat
‘ch’menjadi ‘kh’:achir→ akhir
awalan ‘di-’ dan kata depan ‘di’ dibedakan penulisannya. Kata depan ‘di’ pada contoh “di rumah”, “di sawah”, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara ‘di-’ pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
2.5.
Perkembangan
Bahasa Indonesia Masa Reformasi
Munculnya Bahasa Media Massa (bahasa Pers):
1.
Bertambahnya jumlah kata-kata
singkatan (akronim);
2.
Banyak penggunaan istilah-istilah
asing atau bahasa asing adalam surat kabar.
Pers
telah berjasa dalam memperkenalkan istilah baru, kata-kata dan ungkapan baru,
seperti KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), kroni, konspirasi, proaktif,
rekonsiliasi, provokator, arogan, hujat, makar, dan sebagainya.
Bahasa
Indonesia sudah mulai bergeser menjadi bahasa kedua setelah Bahasa Inggris
ataupun bahasa gaul. Selain itu, dipengaruhi pula oleh media iklan maupun artis
yang menggunakan istilah baru yang merupakan penyimpangan dari kebenaran cara
berbahasa Indonesia maupun mencampuradukan bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
2.6.
Kedudukan
dan Fungsi Bahasa Indonesia
Beberapa
Kedudukan dan fungsi Bahasa Indonesia, yaitu:
1.
Sebagai bahasa persatuan (alat
perhubungan antardaerah dan antarbudaya).
2.
Bahasa nasional.
3.
Bahasa resmi.
4.
Bahasa budaya dan Bahasa ilmu.
5.
Sebagai bahasa pengantar di
lembaga-lembaga.
6.
Pendidikan.
9.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dapat
disimpulkan dari makalah ini, bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa
melayu. Bahasa melayu dipilih sebagai bahasa pemersatu (bahasa Indonesia)
karena :
o
Bahasa melayu sudah merupakan lingua
franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
o
Sistem bahasa Melayu sederhana,
mudah dipelajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa
(bahasa kasar dan bahasa halus).
o
Suku jawa, suku sunda dan suku suku
yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional.
o
Bahasa melayu mempunyai kesanggupan
untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Saran
Bahasa
Indonesia yang kita ketahui sebagai mana dari penjelasan terdahulu memiliki
banyak rintangan dan kendala untuk mewujudkan menjadi bahasa pemersatu, bahasa
nasional, bahasa Indonesia. Sehingga kita sebagai generasi penerus mampu untuk
membina, mempertahankan bahasa Indonesia ini, agar tidak mengalami kemerosotan
dan dipergunakan dengan baik oleh pihak luar.
10.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonym. 2013. Makalah Sejarah Perkembangan Bahasa
Indonesia,http://selidik86.blogspot.com/2013/03/makalah-sejarah-perkembangan-bahasa_9.htmlV
Anak Pesisir. 2012. Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesiahttp://jaririndu.blogspot.com/2012/01/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html
Kartika Nur Ramadha. 2009. Sejarah Perkembangan Bahasa
Indonesia.http://jaririndu.blogspot.com/2012/01/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html
11.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar