Minggu, 26 Juni 2016

TUGAS KELOMPOK AKUNTANSI INTERNASIONAL

Nama Kelompok : Verany Dwi Puji Astuti  (27212562)
                                Yuke Aulia Qamarani    (27212922)
                                Chairunnas Syamputra (21212574)
Kelas                     : 4EB23
Mata Kuliah         : Softskill Akuntansi Internasional

MASALAH EKONOMI DI INDONESIA
TINGGINYA JUMLAH PENGANGGURAN



Rabu, 4 Mei 2016 - 16:03 wib
Okezone.com
Terlalu Pilah-pilih Kerjaan, Sarjana Indonesia Banyak yang Nganggur

            JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, angka pengangguran dari tingkat pendidikan di level universitas akan terus ada setiap tahunnya. Tamat sebagai sarjana, membuat mereka memilih pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.
BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada pendidikan universitas sebesar 6,22 persen periode Febuari 2016 atau meningkat bila dibandingkan Febuari 2015 sebesar 5,34 persen.
            "Itu hukumnya begitu, karena sarjana. Kalau bukan sarjana, hanya tamat SD saja enggak akan nganggur karena apa? Mereka mau kerja apapun dikerjakan. Kalau sarjana punya aspirasi, punya selera dan pilih-pilih pekerjaan," ujar Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Sairi Hasbullah, di Kantor BPS Pusat Jakarta, Rabu (4/5/2016).
            Menurut Sairi, karena hal tersebutlah setiap tahun dan dapat dipastikan tingkat pengangguran dari tamatan universitas terus meningkat.
            "Kalau tidak sesuai kualifikasi pekerjaannya, mereka lebih pilih nganggur dulu, baru bekerja. Karena itu selalu angka pengangguran sarjana lebih tinggi,"tuturnya.
            BPS juga mencatat, selain TPT universitas, TPT Sekolah Menengah Kejuruaan (SMK) masih berada di level pencatat tingkat pengangguran terbanyak. BPS mencatat TPT Febuari 2016 untuk SMK sebesar 7,22, di susui oleh TPT Diploma I,II, dan II sebesar 7,22 persen.
            Sementara TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu 3,44 persen. Hal ini dikarenakan mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apapun, sementara mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih pekerjaan yang sesuai.
KESIMPULAN:
            Seharusnya bagi yang tamat sebagai sarjana tidak boleh terlalu pilih-pilih untuk memilih pekerjaan yang diinginkan. Lebih baik memilih pekerjaan yang seharusnya sebagai menambah pengalaman kita dalam dunia bekerja. Karena semakin banyak pengalaman kita di dalam dunia pekerjaan semakin dekat juga dengan pekerjaan yang kita inginkan. Karena perusahaan mencari calon pekerja bukan berdasarkan nilai saja tetapi berdasarkan keahlian kita dalam bekerja dan pengalaman kita seberapa banyak pengalaman kita dalam dunia bekerja dibidang manapun. Dari situ lah perusahaan menilai dan memilih calon pekerja yang kualitasnya bagus untuk dapat bekerja diperusahaan tersebut. Pepatah berbicara “ Pengalaman adalah guru yang terbaik”.

Kamis, 5 November 2015 - 14:27 wib
Okezone.com
Pengangguran Paling Banyak Lulusan SMK

            JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2015 mengalami peningkatan dibanding Februari 2015. Pada Agustus 2015 jumlah pengangguran di Indonesia naik 110 ribu orang menjadi 7,56 juta orang dari sebelumnya 7,45 juta orang pada Februari 2015.

            Dari jumlah tersebut, pengangguran di dominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan. BPS menyebutkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk pendidikan SMK menempati posisi tertinggi yaitu sebesar 12,65 persen.

            Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS Razali Ritonga menjelaskan, lulusan SMK mendominasi lantaran lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian belum banyak.

            "Kalau sekolah jurusan kan dia spesialis. Nah, ketika lapangan kerja sesuai keahlian dia tidak ada, maka dia sulit untuk cari kerja ke sektor lain. Dia tidak fleksibel," jelasnya di Gedung BPS, Kamis (5/11/2015).

            Di posisi kedua menyusul lulusan SMK adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang sebesar 10,32 persen. Jumlah TPT SMA mengalami kenaikan dibandingkan periode Februari 2015 yang sebesar 8,17 persen.

            Sementara itu, TPT lulusan Diploma I-III sebesar 7,54 persen, lulusan Universitas 6,4 persen, lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 6,22 persen. TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah yaitu sebesar 2,74 persen.

KESIMPULAN:
            Pemerintah seharusnya wajib menangani masalah ini. Yang harus dilakukan pemerintah adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai keahlian mereka. Karena SMK itu adalah sekolah kejurusan karena dia memiliki masing-masing spesialis keahlian. Maka dari itu pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan yang lapangan pekerjaannya itu terdiri dari beberapa spesialis keahlian kejurusan yang diajarkan dan terdapat disekolah tersebut. Lalu perusahaan diminta untuk bekerja sama dengan pihak sekolah sebagai sarana penyalur pekerjaan agar lulusan SMK tidak sulit untuk mencari pekerjaan.
 04 Mei 2016, 15:23 WIB
Liputan6.com
Penganggur Lulusan SMK dan Universitas Naik, Ini Penyebabnya
            Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2016 menjadi 5,50 persen dengan jumlah 7,02 juta orang. Orang yang menganggur paling banyak dan mengalami kenaikan berpendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Universitas.

            Kepala BPS, Suryamin mengungkapkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2016 sebesar 5,50 persen sebanyak 7,02 juta orang. Realisasi angka pengangguran ini menurun 430 ribu orang sebanyak 7,45 juta orang dengan TPT 5,81 persen di Februari 2015.

            "Dalam setahun terakhir TPT turun dan jumlah penganggur berkurang sebanyak 430 ribu orang," katanya saat Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2016 di kantor BPS, Jakarta, Rabu (4/5/2016).

            Suryamin menyebut, tingkat pengangguran pada jenjang SMK dan Universitas selama setahun terakhir naik masing-masing 9,84 persen dan 6,22 persen di Februari 2016. Sementara TPT di pendidikan ini pada periode yang sama 2015 sebesar 9,05 persen dan 5,34 persen.

            "Dalam setahun terakhir, 
Tingkat Pengangguran Terbuka yang meningkat terjadi pada jenjang SMK 0,79 persen poin dan Universitas 0,88 persen poin. Jadi memang TPT tertinggi pada jenjang pendidikan SMK 9,84 persen," ujarnya.
            Sementara TPT terendah pada penduduk berpendidikan SD ke bawah yakni sebesar 3,44 persen pada bulan kedua 2016. Realisasinya menurun dibanding 3,61 persen di Februari 2015. Pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), tingkat pengangguran melosot dari 7,14 persen menjadi 5,76 persen.

            TPT 6,95 persen oleh penduduk di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebelumnya TPT di Februari 2015 sebesar 8,17 persen. Serta pada jenjang pendidikan Diploma I/II/III, tingkat pengangguran turun dari 7,49 persen menjadi 7,22 persen.

            Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Statistik Ketenagakerjaan BPS Wachyu Winarsih mengungkapkan, tingkat pengangguran di jenjang pendidikan SMK naik karena lulusan SMK didorong untuk menjadi seorang wirausaha. Namun pada kenyataannya, banyak alumni sekolah kejuruan ini yang belum siap mengimplementasikan ilmunya sebagai entrepreneur dan memilih untuk bekerja di perusahaan.

            "Karena mereka belum berani jadi wirausaha, akhirnya menjadi buruh atau karyawan dulu. Sementara lapangan kerja yang menyerap mereka terbatas. Tapi 
Tingkat Pengangguran Terbuka tinggi untuk SMK, hanya di jurusan tertentu saja, misalnya di jurusan Tata Boga," jelasnya.

            Sementara tingkat pengangguran naik di jenjang pendidikan Universitas, diakui Wachyu karena jebolan Sarjana ini terlalu memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat maupun sesuai bidang studi yang ditekuni, termasuk mempertimbangkan soal gaji.

            "Kalau pekerjaan tidak sesuai dengan bidang pendidikan, atau gaji belum cocok, ya lebih baik nunggu dulu, cari kerjaan di perusahaan lain. Mereka cenderung punya kebebasan, beda dengan yang berpendidikan rendah. Mereka harus bekerja untuk bisa makan," tegasnya.

            Sedangkan dari sisi lapangan usaha atau perusahaan, lanjut Wachyu, perusahaan kian selektif untuk merekrut atau menerima karyawan baru. Perusahaan mempunyai kriteria tertentu, dan cenderung memilih pekerja yang mempunyai kompetensi atau keahlian dan pengalaman.

            "Perusahaan juga seleksi calon karyawan baru, mencari lulusan yang bukan saja mahir sesuai latar belakang pendidikan saja, tapi juga punya keahlian di luar itu dan pengalaman. Sementara tidak sedikut lulusan SMK dan Universitas yang belum memiliki kriteria tersebut," pungkas Wachyu. (Fik/Gdn)

KESIMPULAN:
            Pemerintah menyediakan lapangan perkejaan untuk semua jurusan di SMK karena mereka belum siap menjadi wirausaha yang ilmunya belum siap untuk mengimplementasikan. Banyak lulusan akhirnya memilih untuk bekerja menjadi buruh pabrik walaupun pekerjaan itu sangat berat karena kita bekerja tidak hanya pada saat pagi akan tetapi pada sore hari dan malam hari. Tetapi hasilnya sangat memuaskan yang gajinya jauh lebih tinggi dibandingkan bekerja di perusahaan besar akan tetapi justru lapangan pekerja yang menyerap mereka sangat terbatas sekali. Untuk itu pemerintah ikut serta dalam menangani pengurangan pengangguran yang terjadi pada lulusan SMK dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang terdapat disemua jurusan SMK dan perusahaan dapat bekerja sama dengan pihak sekolah agar calon pekerja dapat tersalurkan.


            Untuk lulusan mahasiswa sarjana perusahaan kian selektif untuk merekrut atau menerima karyawan baru. Perusahaan mempunyai kriteria tertentu, dan cenderung memilih pekerja yang mempunyai kompetensi atau keahlian dan pengalaman. Perusahaan juga seleksi calon karyawan baru, mencari lulusan yang bukan saja mahir sesuai latar belakang pendidikan saja, tapi juga punya keahlian di luar itu dan pengalaman. Sedangkan lulusan universitas belum memiliki kriteria tersebut. Jangan melihat pekerjaan dari sisi gajinya saja tetapi dari pengalamaannya. Semakin banyak pengalaman dalam dunia bekerja maka perusahaan itu pasti akan menerima dengan calon karyawan sesuai dengan kriteria perusahaan. Jangan menunggu untuk mencari pekerjaan yang diinginkan karena biasanya kita akan semakin malas untuk bekerja yang dimanfaatkan hanya bermain saja. Untuk itu carilah sebanyak mungkin pengalaman bekerja karena itu bekal kita untuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan dan jangan hiraukan gaji. Pengalaman tidak bisa dibayar dengan gaji semakin banyak pengalaman gaji yang sangat besar tidak dapat bisa dibayarkan dengan pengalaman kita dalam dunia bekerja yang sangat banyak.