Nama : Verany Dwi Puji Astuti
Kelas : 4EB23
NPM : 27212562
Mata
Kuliah : Softskill Akuntansi
Internasional
SEJARAH
BERDIRINYA VANS
Paul Van Doren lahir pada tahun 1930 dan tinggal di
boston yang pada saat itu dia baru naik kelas 3 smp. Akhirnya Van Doren
memutuskan untuk serius dalam hobinya
berkuda. Pada umur 14 tahun, dia sudah mulai mengikuti beberapa race
lokal dan mendapat julukan “dutch the clutch” dikarenakan stylenya yang aneh dalam berkuda. Ibunya yang kesal
dengan melihat dia yang kerjanya hanya bermain kuda saja dan tidak menghasilkan
uang. Pada akhirnya dia dipaksa untuk bekerja di pabrik sepatu sebagai buruh
pembuat sepatu dan penyapu lantai.
Setelah 20 tahun bekerja di pabrik sepatu dengan merek
Randy's tersebut, berkat keuletannya Van Doren mendapat jabatan sebagai vice
president dari perusahaan tersebut. Kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari
perusahaan sepatu itu dan pindah ke southern california. Disana ia membuat
perusahaan baru bersama sahabat dan adiknya. Pada akhirnya terwujudlah perusahaan
yang dia buat dan diberi nama Van Doren
Rubber Company. Saat itu, hanya ada 3 merek untuk membuat vulcanized shoes
atau bisa dibilang sepatu keds yaitu Randy's, Keds dan Converse. Sekarang, say
welcome to Vans. Peristiwa pada taun 1966 ini sekarang terkenal dengan istilah
: The Birth of The California Style.
Waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan sebuah toko
dengan pabrik di dalam satu sistem memakan waktu cukup lama juga. Sebelum toko
itu dibuka, di depan pintunya terdapat tulisan “Opening January!”. Setelah
bulan januari persiapan pun belum selesai kemudian berganti “Would You Believe
February?”, dan akhirnya tokonya dibuka pada tanggal 1 maret 1966. Pada hari
pertama, terdapat 16 orang pengunjung untuk melihat-lihat contoh sample sepatu yang
disediakan. Setelah mendapatkan order, Paul Van Doren beserta teman-temannya
langsung segera masuk ke pabrik dan membuat sepatunya.
Harga sepatu Vans saat pertama produksi seharga $ 4.99. Vans terkenal dengan konsep custom
shoesnya. Vans menjadi semakin dikenal saat mereka membuat sepatu
sekolah-sekolah, team olahraga dan cheerleader di seluruh California Selatan.
Pada tahun 1975 dua orang skateboarder dari Santa Monica yaitu Tony Alva dan
Stacey Peralta ingin membuat sepatu custom yang lebih lagi. Setelah berbicara dengan
Vans, akhirnya membuat tambahan panel suede di bagian tumit dan diberi
label “Off The Wall” yang pada hari itu
menjadi nama dari skateboarding shoes line dari Vans. Mereka juga mulai mensponsori
kedua skater itu. Mereka membayar Stacey Peralta sebesar $300 yang mau tour
keliling dunia untuk selalu menggunakan sepatu Vans dimanapun dia berada.
Pada akhir taun 70an, putra dari Paul Van Doren, Steve
Van Doren melihat sepatu temannya yang dicoret-coret dengan motif kotak-kotak
papan catur. Kemudian ia langsung berbicara kepada ayahnya, kemudian membuat slip-on checkerboard dengan warna putih berbahan
kanvas dan berwarna hitam karet disusun menjadi motif kotak-kotak yang akhirnya
ia mengeluarkan sepatu tersebut. Di waktu
yg sama, orang dari Universal Studios Hollywood meminta pasokan sepatu untuk
membuat film, kemudian Vans mengirimkan stock checkerboard slip-ons dalam
jumlah besar. Orang di film Fast Times at Ridgemont High itu langsung tertarik
dengan sepatu tersebut dan mereka membuat scene dimana salah satu karakter film
dipukul kepalanya menggunakan sepatu itu. Setelah film tersebut keluar, Vans
langsung kebanjiran order. Mereka yang selama ini tidak pernah menjual sepatu
ke luar California mendadak mendapatkan order dari seluruh Amerika. Ini menjadi
kelahiran salah satu sepatu paling laris di dunia bahkan sampai sekarang yaitu
The Checkerboard Vans Slip-Ons.
Awal tahun 80'an, adik Paul Van Doren, Jim,co-founder
yang menjabat sebagai presiden waktu itu memutuskan untuk membuat sepatu di
luar sepatu keds. Mereka membuat sport shoes. Mereka ingin menyaingin nike, adidas,
reebok dan puma. Bisa dikatakan semua keuntungan yang mereka dapatkan dari
penjualan Vans chekerboard slip-ons yang fenomenal mereka hambur-hamburkan
untuk membuat sepatu sport yang tentunya materialnya jauh lebih mahal dari
sepatu keds yang simple. Mereka membuat sepatu-sepatu berkualitas bagus dan
mahal untuk sepatu basket, sepak bola, tennis, baseball dan gulat. Walaupun Jim
dinasehati oleh Paul Van Doren agar tidak berangan-angan menyaingin dengan nike
yg sudah mendunia, namun Jim tidak mau mendenganyar.
Hasilnya pun bisa ditebak, Vans mengalami kerugian yang besar
dan hutang $11juta-12juta dan akhirnya para petinggi masuk ke pengadilan karena
tidak bisa membayar hutang kepada perusahaan-perusahaan bahan mentah untuk
membuat proyek sepatu sport mereka. Akhirnya
pengadilan memutuskan Jim dikeluarkan
dari Vans dan Paul Van Doren menjadi pemilik tunggal Vans. Paul Van Doren
akhirnya harus memeras otak dan banting tulang demi membayar hutang perusahaan.
Dia memulai dengan cara merubah material sepatu Vans. Mereka hanya membeli
material dari perusahaan tempat mereka berhutang. Keuntungan perusahaan
dipotong untuk membayar hutang. Setelah 3 tahun, Hutangnya pun lunas dan Selama
3 tahun itu pula mereka sama sekali tidak menjalankan bentuk promosi.
Sialnya waktu itu ada perusahaan baru muncul yang berada
pada segmen yang sama dengan Vans, yaitu Vision Streetwear dan melakukan
promosi secara besar-besaran. Vans sangat terpuruk waktu itu. Di tahun 88,
Steve Van Doren diajak ayahnya untuk bermain tenis. Dia tahu bila ayahnya tidak
pernah dan tidak bisa bermain tenis. Jadi dia berfikir bila ayahnya ingin
berbicara serius. Ayahnyanya mengatakan “ steve,apa yang ingin kamu jawab kalo
ada orang datang ke kamu lalu menawar $75 juta untuk perusahaan kamu?” si steve
tanpa pikir panjang menjawab “jual.Ayah sudah siap untuk pensiun, enjoy life.
Apapun yang terjadi sama steve, steve akan baik-baik saja”. Akhirnya Vans
dibeli oleh perusahaan McConval-Deluit Corp. Hak kepemilikan perusahaan Vans
ada pada mereka selama 10 tahun kedepan. Mereka yang mengatur Vans dengan
membuat pabrik yang lebih besar di seluruh Amerika.
Di tahun 90an, produksi mereka turun sehingga membuat produksi
dipindahkan ke luar Amerika yaitu tepatnya
di China. Mereka juga memulai lebih involve dengan culture anak muda
saat itu. Teori mereka, dengan target
yaitu teenagers 65% laki-laki dan 35% perempuan dan anak-anak muda di
bawah 16 tahun. Jadi mereka mengakomodasi those excact things. Mereka membuat The Warped
Tour dengan menonjolkan musik punk-pop melodics yang populer di kalangan ABG
saat itu. Mereka membuat The Vans Triple Crown Skate Contest yang menjadi batu
loncatan Tony Hawk hingga menjadi skater yang kaya raya. Hollywood juga membuat
film yang berjudul lords of Dogtown yang more or less menceritakan skateboard
& Vans. Sekarang Vans dimiliki oleh VF corp dan bernilai $400juta. VF corp
sendiri perusahaan unik mereka melakukan semacam research dengan membeli
perusahaan youth culture. Mereka pernah membeli Bilabong,Quiksilver dll.
Paul Van Doren
Jim Van Doren
Toko vans
pertama
Model vans pertama kali
Tony Alva
Stacy Peralta
Vans
yang dirancang oleh Tony Alva dan Stacy Peralta
Vans slip-on checkerboaed
Sepatu olahraga dari Vans
Vans Authentic
VANS
DI JAKARTA
Di Jakarta sendiri,
Vans tidak hanya dipakai oleh para skateboarder, namun juga personil-personil
band, dan sneakers freak, yaitu orang yang hobi mengoleksi sepatu. Di Jakarta,
Vans juga termasuk barang langka, karena Vans belum memiliki toko resmi di
Indonesia tapi akan ada dibali kira-kira beberapa tahun kedepan. Ada beberapa toko
yang menjual produk Vans, baik sepatu maupun pakaian dan aksesoris mulai dari
kacamata sampai kaus kaki, tentunya dengan harga yang sedikit lebih mahal
karena mereka harus pesan dari luar negeri seperti China, Singapore, Hongkong,
dan Amerika. Toko-toko yang menjual produk Vans antara lain Koopa, My Shoes,
Penny, Skematic, dan Insect.
TEKNOLOGI
WAFFLE CUP
Sekarang vans
mengeluarkan sepatu dengan teknologi terbaru yaitu waffle cup, sangat cocok
untuk para skateboarder. teknologi dimana menggabungkan teknologi lama dalam
penggabungan sepatu dan solnya dengan teknologi sekarang menggunakan mesin.
Sepatu yang sudah ditempel solnya dengan teknik vulcanized lalu di tempel
dengan sol lagi dan bagian depannya dibungkus lagi, lalu sepatu dioven sampai
menyatu dan jadilah sepatu yang nyaman dan “vulcanized feel”. Saat digunakan
saat bermain skateboard “boardfeel”nya saat bagus karena sangat lentur dan
ringan.
contoh
dan cara membuat waffle cup
VANS. Inc
Vans,
Inc adalah produsen utama dari sepatu dan pakaian untuk kelompok sasaran
konsumen muda dan aktif. Vans sepatu snowboarding dan sepatu skateboard secara
khusus dirancang untuk budaya olahraga ekstrim hari ini, dan alas kaki pilihan
antara atlet elit di seluruh dunia. Melalui sponsor acara dan rantai taman skateboard,
Vans telah ditempa niche unik di pasar olahraga pemuda booming. Komitmen yang
tak kunjung padam perusahaan untuk melacak tren terbaru telah memasukkannya ke
dalam posisi yang sangat baik untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar karena
kepala ke abad ke-21.
Kelahiran Style California: 1966
Paul Van Doren memperoleh pengalaman
sepatu manufaktur di Pantai Timur pada awal 1960-an. Pada tahun 1965, Van Doren
telah mengembangkan ide untuk memulai pabrik sendiri. Tapi bukannya menjual
sepatunya ke pengecer, Van Doren memutuskan untuk mengambil kegiatan ritel juga
dan menjual sepatu ia diproduksi langsung kepada masyarakat.
Van Doren, bersama-sama dengan mitra
Serge D'Elia, seorang investor yang berbasis di Jepang, dan Gordy Lee, yang
juga memiliki pengalaman manufaktur sepatu, pindah ke California selatan,
membangun pabrik dan membuka toko ritel 400 kaki persegi pertama di Anaheim di
Maret 1966. Perusahaan ini didirikan sebagai Van Doren Rubber Company, dan
sepatu Van Doren yang kemudian dikenal hanya sebagai Vans. Kemudian, adik Van
Doren, James Van Doren, bergabung dengan perusahaan. Paul Van Doren dan D'Elia
dimiliki mayoritas perusahaan; James Van Doren dan Gordy Lee setiap diberi
saham 10 persen.
Sebagai perusahaan itu sendiri
mengatakan itu, pembukaan toko pertamanya adalah menguntungkan. Vans menawarkan
tiga gaya, untuk $ 4,99 harga dari $ 2,49, tetapi pada hari toko dibuka untuk
bisnis, perusahaan hanya membuat model layar. Rak toko dipenuhi dengan kotak
kosong. Namun demikian, 12 pelanggan datang ke toko dan memilih warna dan gaya
yang mereka inginkan. Pelanggan diminta untuk datang kembali pada sore hari,
sementara Van Doren dan Lee bergegas ke pabrik untuk membuat sepatu mereka.
Ketika pelanggan kembali untuk mengambil sepatu, Van Doren dan Lee menyadari
bahwa mereka telah diabaikan untuk memiliki uang yang tersedia untuk membuat
perubahan. Para pelanggan diberi sepatu dan diminta untuk kembali keesokan
harinya untuk membayar mereka. Semua 12 pelanggan melakukan.
Selama tahun depan, perusahaan
membuka toko ritel baru hampir setiap minggu. Pola yang dikembangkan di mana
Paul Van Doren dibina lokasi, Senin, menandatangani sewa Selasa, direnovasi
pada Rabu, menambahkan rak sepatu, Kamis dan menampilkan pada Jumat, menyewa
seorang manajer toko pada hari Sabtu, dan melatih staf pada hari Minggu.
Operasi ritel akan menghasilkan sebagian besar penjualan awal Van Doren dunia;
toko juga memungkinkan perusahaan untuk mendekati publik. Keluhan atas desain
awal sol karet perusahaan, yang menampilkan pola berlian yang retak terlalu
mudah sepanjang bola outsole, menyebabkan penambahan garis vertikal ke daerah
bola. Desain baru dipatenkan sebagai Vans 'wafel tunggal.
Sebuah jenis baru dari pelanggan
meningkatkan kekayaan perusahaan pada awal tahun 1970-an. The skateboard
menggila, hasil dari budaya berselancar California, memberikan kesempatan bagi
Van Doren untuk membuktikan fleksibilitas. Ketika pemain skateboard mulai
meminta warna dan pola-pola baru, perusahaan menanggapi dengan menawarkan Era,
sepatu merah dan biru yang dirancang oleh pemain skateboard profesional. Vans
cepat menjadi sepatu skateboard pilihan, mulai perusahaan lama, dan setia,
hubungan dengan olahraga. Banyak kombinasi warna yang lebih dan pola
ditambahkan pada 1970-an. Sebuah gaya baru, slip-on, diperkenalkan pada tahun
1979, dan itu menjadi kemarahan dari California selatan.
Pada tahun 1976, kepemilikan
perusahaan itu menyamakan kedudukan di antara empat mitra asli, dan James Van
Doren diberi kendali arah perusahaan. Semakin muda Van Doren berangkat untuk
memperluas perusahaan. Dia dibantu oleh olahraga trend terbaru menyapu
California, BMX sepeda: Vans menjadi sepatu pilihan kalangan muda BMXers. Tapi
itu film yang memberi Vans pasar nasional.
1982 Film hit Fast Times di
Ridgemont Tinggi menampilkan California surfer dude Jeff Spicoli, dimainkan
oleh Sean Penn, mengenakan sepasang Vans kotak-kotak slip-ons. Film ini membuat
bintang dari Penn dan meluncurkan Vans nasional, membawa sepatu perusahaan ke
department store dan pengecer independen. Dengan penjualan meroket, James Van
Doren meningkatkan kapasitas produksi, perusahaan yang bergerak untuk tanaman
175.000 kaki persegi baru di Orange, California, pada tahun 1984 dan
meningkatkan jumlah karyawan lebih dari 1.000. The Vans slip-on menggila
melahirkan berbagai perjanjian lisensi, termasuk barang-barang seperti kacamata
hitam dan notebook. Van Doren juga mendorong perusahaan lebih dalam sepatu
olahraga khusus, mengembangkan bisbol, sepak bola, mewasiti, basket, sepak
bola, gulat, tinju, dan terjun payung sepatu. Sebagian besar perusahaan sudah
mulai bergerak manufaktur ke Asia, di mana biaya tenaga kerja lebih rendah dan
peraturan lingkungan yang kurang membatasi, tapi Vans tetap didedikasikan untuk
produksi dalam negeri, sementara memperluas penawaran produk untuk menyertakan
lebar dari EEEE ke AAAA.
Dihadapkan dengan tenaga kerja yang
tinggi dan biaya ekspansi, dan biaya mempertahankan luas dan kedalaman lini,
Van Doren segera dilanda banjir pesaing menjual imitasi murah dan tiruan. Sebagai
tanggapan, Van Doren terpaksa menjatuhkan harga yang di bawah biaya produksi.
Menambah masalah perusahaan itu 1984 penggerebekan oleh petugas imigrasi
federal, yang mengakibatkan penangkapan hampir 150 diduga pekerja ilegal.
Kemudian bagian bawah putus slip-on menggila.
Selama 21 bulan, Van Doren
kehilangan beberapa $ 3.600.000, membangun utang total $ 12 juta. Ketika bank
perusahaan menuntut pembayaran pada catatan $ 6.700.000 pada tahun 1984,
perusahaan terpaksa menyatakan kebangkrutan. Kondisi yang Bab 11 kebangkrutan
reorganisasi menyerukan penggulingan James Van Doren. Paul Van Doren kembali
memimpin perusahaan dari kebangkrutan, yang dicapai pada tahun 1986.
Dari Leveraged Buyout Penawaran
Perdana Umum: 1987-1992
Permintaan sepatu Vans terus menjadi
kuat dan, pada tahun 1987, dengan dua juta pasang sepatu diproduksi di pabrik
Jeruk yang membawa $ 50 juta dalam penjualan, Van Doren kembali ke
profitabilitas. Penjualan internasional, terutama ke Meksiko dan Eropa, juga
tumbuh dengan kuat, akuntansi untuk 10 persen dari penjualan perusahaan.
Sepertiga dari bisnis perusahaan pergi ke sepatu yang dirancang khusus. Dalam
waktu ketika hampir semua pembuat sepatu utama telah bergeser produksi ke Korea
Selatan, Vans menempel tradisi produksi dalam negeri, membual
order-to-pengiriman kali dari lima hari untuk produk-produk di dalam katalog,
dibandingkan dengan rata-rata industri sembilan bulan .
Pada tahun 1988, Paul Van Doren,
menjelaskan bahwa ia lelah mengawasi sehari-hari operasi perusahaan, setuju untuk
menjual perusahaan dalam leveraged buyout yang diselenggarakan oleh perusahaan
ventura perbankan berbasis di San Francisco McCown De Leeuw & Co The
leveraged pembelian, senilai $ 74.400.000 termasuk asumsi kewajiban yang ada,
meninggalkan Paul Van Doren di tempat sebagai ketua dan Gordy Lee sebagai wakil
ketua. Richard Leeuwenberg, sebelumnya dengan Boise Cascade Corp, dibawa
sebagai presiden dan CEO untuk perusahaan, sekarang berganti nama Vans, Inc.
Pada tahun 1989, penggerebekan oleh
pejabat AS dan Meksiko menutup beberapa operasi palsu yang telah membanjiri
pasar dengan imitasi Vans murah. Meskipun kerugian palsu, penjualan Vans
'mencapai $ 70 juta pada tahun 1990, dengan penjualan internasional meningkat
menjadi 25 persen dari penjualan, dan pesanan khusus terus memainkan peran yang
kuat dalam pendapatan. Tahun berikutnya, Vans go public, dengan penawaran awal
sebesar 4,1 juta saham, pada $ 14 per saham. Paul Van Doren, sementara tetap
mempertahankan saham di perusahaan, turun dari papan.
Pada tahun 1992, bagaimanapun,
resesi awal 1990-an, dan pertunjukan laba terutama miskin di antara produsen
alas kaki besar, memaksa harga saham Vans 'turun ke $ 7. Namun, pendapatan dari
70 toko ritel perusahaan dan 4.500 outlet independen tumbuh $ 91.000.000, meningkatkan
laba bersih menjadi US $ 6,5 juta tahun 1992. Pada saat itu, lebih dari 32
persen dari penjualan berasal dari ekspor internasional. Tapi di sisi domestik,
Vans telah kehilangan tanah.
Teknik produksi Vans 'telah berubah
sedikit dalam dua dekade terakhir. Meskipun korban katalognya membengkak
menjadi lebih dari 200 gaya yang berbeda, asli sepatu kanvas-dan-karet terus
memberikan kira-kira setengah dari penjualan. Tapi mode sepatu olahraga telah
berubah di tahun 1990-an, dengan bahan-bahan baru dan gaya mengikis pasar Vans
'. Produsen lain yang memproduksi sepatu mereka di Asia, di mana biaya tenaga
kerja yang serendah 14 sen per jam. Produksi asing memungkinkan produsen untuk
menggunakan pelarut dan bahan lain yang dikendalikan ketat oleh peraturan lingkungan
California.
Vans menempel produksi dalam negeri,
menghabiskan $ 5 juta untuk membangun negara-of-the-art pabrik di Vista,
California. Tapi penjualan dan laba yang tergelincir, turun ke $ 86.500.000 dan
$ 2.700.000, masing-masing, pada tahun 1993, dan untuk $ 80.500.000 dan $
1.400.000 pada tahun 1994. Pada tahun 1993, perusahaan lagi berlari bertabrakan
dengan undang-undang imigrasi; 300 karyawan dideportasi dan perusahaan didenda
$ 400.000.
Masukkan Walter Schoenfeld: 1993
Pada 1993, Vans berusaha untuk
menggantikan Richard Leeuwenberg. Gary Schoenfeld, maka seorang partner di
McCown De Leeuw disarankan ayahnya, Walter Schoenfeld. Pada tahun 1960-an,
Schoenfeld senior telah bergabung dengan perusahaan ayahnya, pembuat kecil ikatan.
Pada tahun 1971, Schoenfeld meluncurkan divisi baru, disebut Brittania
Sportswear, dengan $ 1.500.000 mengangkat sama antara dirinya, dua investor,
dan bank. Brittania menikah jeans biru yang sedang berkembang tren dengan jaket
terkoordinasi, Sportshirts, dan sweater. Penjualan lepas landas dari $ 100.000
dalam tahun 1973 menjadi lebih dari 50 juta dolar pada tahun 1975, dan
pendapatan Schoenfeld Industries meningkat menjadi lebih dari $ 300 juta pada
tahun 1981. Pada awal 1980-an, Schoenfeld dijual Brittania ke Levi Strauss dan
pensiun.
Dibawa keluar dari pensiun untuk
kepala Vans, Schoenfeld bertindak untuk memperluas lini produk Vans, pergi ke
luar negeri untuk pertama kalinya untuk memproduksi baris baru sepatu di
langkah dengan mode saat ini. Schoenfeld juga ditujukan rantai bermasalah
perusahaan dari toko ritel, yang telah terpukul keras oleh resesi terus
California, menutup beberapa toko dan mengkonversi orang lain sebagai factory
outlet untuk mengalirkan sepatu macet dan kelebihan persediaan. Schoenfeld
berusaha untuk meningkatkan upaya pemasaran perusahaan, menyewa desainer baru
dan staf pemasaran. Pada tahun 1994, dengan pendapatan dan laba meningkat lagi,
Schoenfeld pensiun lagi, membawa Christopher G. Staf, mantan presiden dan CEO
dari divisi Olahraga Speedo dan Aksi Authentic Kebugaran Corp.
Penjualan "Koleksi
internasional" buatan luar negeri Vans itu melepas dan segera menyumbang
sebanyak 75 persen dari pendapatan perusahaan. Produksi dalam negeri, namun,
telah menjadi hambatan pada keuntungan perusahaan. Penjualan jatuh, persediaan
sedang mendaki, dan saham Vans turun ke titik terendah dari $ 3,125. Untuk
membendung masalah, perusahaan PHK 300 pekerja, maka malas tanaman mereka
selama dua minggu pada bulan Maret 1995. Pada bulan Mei 1995, Schoenfeld keluar
dari pensiun lagi, melanjutkan kepemimpinan perusahaan.
Pada bulan Juli 1995, perusahaan
menutup pabrik Jeruk yang, menembak hampir semua 1.000 pekerja di sana.
Restrukturisasi dan menulis-off biaya dari penutupan pabrik menciptakan sebagian
besar perusahaan $ 37.000.000 kerugian yang $ 88.000.000 pada tahun 1995
pendapatan. Vista tanaman terus operasi, tetapi sebagian besar produksi Vans
'sekarang dikontrak melalui selusin pabrik di Korea Selatan.
Yang penting, Schoenfeld bekerja
untuk mengubah fokus perusahaan. Dari perusahaan berakar di bidang manufaktur,
Vans akan menjadi jauh lebih berorientasi pasar, yaitu, memproduksi apa yang
akan menjual, daripada menjual apa yang dihasilkan. Pengenalan garis Vans
sepatu snowboarding pada tahun 1995 ditambahkan $ 7 juta untuk penjualan kotor
dan dalam waktu satu tahun yang diperoleh perusahaan nomor tiga posisi di
antara para pemimpin di pasar itu. Ekspansi lebih dalam perempuan dan garis
anak-anak juga diproduksi keberhasilan yang kuat. Dengan perkiraan analis
pendapatan naik menjadi $ 118.000.000, dengan pendapatan mencapai US $ 4 juta,
dan dengan sahamnya rebound ke $ 11 per saham pada awal 1996, Vans muncul,
akhirnya, berada di kursus stabil untuk masa depan.
Olahraga Tren di Abad 21
Vans sepatu snowboard memainkan
peran penting dalam kebangkitan perusahaan sebagai pesaing utama di pasar
olahraga pemuda. Penjualan sepatu meningkat dari 6.000 pada tahun 1995 menjadi
lebih dari 110.000 pada tahun 1996, dan hampir sendirian dipulihkan perusahaan
untuk profitabilitas setelah kerugian bencana dekat menderita menyusul
penutupan pabrik Oranye. Semakin populernya snowboarding di Eropa dan Jepang
juga memberikan bisnis di luar negeri perusahaan dengan dorongan signifikan.
Vans lebih memperkuat pijakan di pasar luar negeri pada tahun 1998, ketika
dibuka gerai ritel di Liverpool, Inggris, dan Barcelona, Spanyol. Secara
keseluruhan, penjualan internasional lebih dari dua kali lipat antara tahun
1997 dan 2001, dari $ 46.400.000 untuk $ 98.200.000.
Sebuah garis lebih beragam sepatu,
dirancang untuk yang lebih luas tentang olahraga, juga memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan pesat perusahaan. Selain meluncurkan lini sepatu baru
skateboard dinamai atlet kelas dunia seperti Geoff Rowley dan Cory Nastazio,
perusahaan juga memperkenalkan sejumlah produk yang ditujukan untuk perempuan,
termasuk khas garis Mewajibkan Nada, sepatu kulit putih yang berubah warna bila
terkena ultraviolet cahaya. Perusahaan juga menanggapi meningkatnya popularitas
olahraga perempuan dengan mengembangkan rencana untuk memperkenalkan jajaran
lengkap sepatu luar ruangan wanita dengan musim semi 2002.
Dorongan utama di balik lini produk
diperluas ini terbukti menjadi pergeseran dari dalam negeri untuk manufaktur
global. Karena tanaman di luar negeri mampu memproduksi sepatu lebih murah dan
cepat daripada rekan-rekan Amerika mereka, Vans mampu menanggapi tren terbaru
dengan lebih dari kedekatan sebelumnya telah dimungkinkan. Kenaikan berikutnya
di profitabilitas perusahaan membuat domestik turun-sizing tak terelakkan;
perusahaan menutup operasinya Vista yang permanen pada tahun 1998, dan mulai
mengontrakkan semua manufaktur untuk pabrik di Cina dan Korea.
Pada tahun 1997 Vans mengambil
langkah berani menuju diversifikasi bahkan ketika memperkenalkan garis pakaian
pria muda. Sementara penjualan dari garis pakaian Vans awalnya substansial,
mereka menerima dorongan besar pada tahun 1999, ketika perusahaan bergabung
dengan Pacific Sunwear untuk membentuk VanPac, dengan tujuan menjadi nama yang
dominan di skateboard pakaian di Amerika Serikat. Pernikahan nama Vans dan
jaringan ritel yang luas Pacific Sunwear terbukti menjadi salah satu kebetulan
bagi kedua perusahaan, dan usaha baru segera mampu bersaing untuk pangsa pasar
dengan merek-merek mapan seperti Rusty dan Quiksilver.
Vans lanjut mengukuhkan reputasinya
sebagai merek pilihan bagi pemain skateboard dengan pembukaan yang 46.000 kaki
persegi taman skateboard indoor di Orange, California, pada tahun 1998.
Perusahaan ini cepat terbukti menguntungkan, inspirasi perusahaan untuk
meluncurkan serangkaian taman serupa nasional . Pada akhir tahun 2001 Vans
dimiliki empat taman skateboard di California, bersama dengan taman di New
Jersey, Virginia, Texas, dan Colorado. Pada saat yang sama, perusahaan itu
menghasilkan banyak publisitas melalui sponsor dari berbagai acara olahraga
Triple Crown, termasuk skateboard, snowboarding, motocross, dan berselancar.
Dengan lini diversifikasi produk, sponsorship acara yang dipublikasikan, dan
fasilitas skateboard populer, Vans jelas segera kembali di tengah-tengah hal.
OUTLETS
VANS DI JAKARTA
1.
Unit SB2-17. Jl.
M.H. Thamrin No.1. Jakarta Pusat 10310
Jakarta, 10310
622123580354
2.
1st Floor Unit
L.1-167. Jl Casablanka kav.88. Jakarta Selatan 12870
Jakarta, 12870
622129488740
3.
Unit 306A, 308A,
310A. Plaza Senayan 2nd floor. Jl. Asia Afrika No.8
Jakarta, 10270
622157900156
4.
Unit 16B, 1st
Fl. Sentra Kelapa Gading. Jl. Boulevard Kelapa Gading Block M. Jakarta Utara
12420
Jakarta, 12420
622145853678
5.
Unit 12A, Upper Ground
Kemang Village 36. Jl. Pangeran Antasari. Jakarta Selatan 12150
Jakarta, 12150
622129056584
6.
Unit 209. Pondok
Indah Mall II 2nd floor. Jl. Metro Pondok Indah
Jakarta, 12310
622175920595
7.
BANDUNG
Unit RL-B-36.
Paris Van Java Resort Lifestyle Place. Jl. Sukajadi No.137-139
Bandung, 40162
622282063692
8.
BEKASI
Unit 1F-123, Jl.
Bulevard Ahmad Yani Block M Sentra Summarecon. Bekasi 17142
Bekasi, 17142
622129572345
OUTLETS VANS DI MALAYSIA
·
VANS One
Utama Shopping Centre
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot S219A, 2nd Floor,Bandar Utama Phase
2 (A),47800 Petaling Jaya, Selangor.
+60 03-77253481
·
VANS
Paradigm Mall
No VIP Program In This Shop
Franchise
1, Jalan SS 7/26A, Kelana Jaya,47301
Petaling Jaya, Selangor .
+60 03-78863801
·
VANS
Sunway Pyramid Shopping Centre
No VIP Program In This Shop
Franchise
No. 3, Jln PJS 11/15, Bandar
Sunway,46150 Petaling Jaya, Selangor.
+60 03-56314766
·
VANS
Setia City Mall
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot L1-29, Level 1,7, Persiaran Setia
Dagang,Bandar Setia Alam, Seksyen U13,40170 Shah Alam, Selangor.
+60 03-33584671
·
VANS
Pavilion Shopping Centre
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot 5.08.02, Level 5,168, Jalan Bukit
Bintang,55100 KL
+60 03-21451855
·
VANS
Midvalley Megamall
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot T-024, 3rd Floor Lot 3978, Mukim
Kuala Lumpur,Batu 2 1/2 Jalan Klang Lama, 58000 Kuala Lumpur.
+60 03-22820200
·
VANS IOI
City, Putrajaya
No VIP Program In This Shop
Owned
L2-29A, Level 2, IOI City Mall, IOI
Resort, 62502 Putrajaya, Malaysia.
+60 389580292
·
VANS
Fahrenheit88 Shopping Centre
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot G20 & 21, Ground Floor,179,
Jalan Bukit Bintang,55100 Kuala Lumpur
+60 03-21411824
·
VANS
Quill Shopping Centre
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot 1-22, Level 1,No. 1018, Jalan
Sultan Ismail,50250 Kuala Lumpur
+60 03-26023068
·
VANS
Dataran Pahlawan Melaka Megamall
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot G-053, Ground Floor,Jalan Merdeka.
75000 Bandar Hilir, Melaka.
+60 06-2835578
·
VANS
Queensbay Mall
No VIP Program In This Shop
Franchise
Lot 3F-37 (a12),100 Persiaran Bayan
Indah,11900 Bayan Lepas, Penang
+60 04-6451018
·
VANS City
Suqare, JB
No VIP Program In This Shop
Owned
J2-04, Level 2, Johor Bahru City
Square, 108, Jalan Wong Ah Fook, 80000 Johor Bahru, Johor, Malaysia
+60 72073881
KASUS VANS
Digugat Perusahaan AS, Sepatu
'Vans' Indonesia Harus Ganti Merek
detikfinance
·
Senin,
30/08/2010 14:20 WIB
Jakarta -Vans
Inc, perusahaan raksasa sepatu asal Amerika Serikat akhirnya berhasil
memenangkan gugatannya terhadap pengusaha lokal asal Tangerang yang diduga ikut
meniru merek Vans.
Dalam sidang putusan gugatan hak merek di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Hakim Ketua Bayu Isdiatmoko mengatakan tergugat yakni Kim Sung Soo terbukti telah mendaftarkan merek Vans pada 21 Maret 2007 dalam kategori Kelas 18.
"Dan merek Vans of The Top yang didaftarkan tersebut di atas mempunyai kepentingan hak, bahwa kemudian perlu dipertimbangkan, bahwa memiliki persamaan pada pokoknya dengan penggugat (Vans Inc)," ujar Bayu di Kantor Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Senin (30/08/2010).
Oleh sebab itu, lanjut Bayu karena ada unsur-unsur yang menonjol antara merek satu dengan yang lain serta kesamaan bentuk dan tulisan atau kombinasi Majelis berpendapat terdapat persamaan pada pokoknya.
"Dipertimbangkan bahwa merek tergugat didasarkan itikad tidak baik, bahwa permohonan dengan itikad tidak baik adalah untuk mendompleng, membonceng. Merek Vans Inc (penggugat) adalah merek terkenal dan penggunaan merek tergugat dapat mengecoh," papar Bayu.
Bayu melanjutkan, majelis berkesimpulan merek tergugat didaftarkan atas itikad tidak baik.
"Gugatan penggugat (Vans Inc) dikabulkan seluruhnya. Mengadili menolak eksepsi tergugat dengan pokok perkara mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya," jelas Bayu.
Sebelumnya, gugatan Vans Inc melawan Kim Sung Soo ini adalah berkaitan dengan terkait dengan sengketa merek Vans, di mana sidang siang ini digelar dengan agenda kesimpulan.
Dalam berkas gugatan yang didaftarkan di bawah registrasi No.39/MEREK/2010/PN.NIAGA.JKT.PST, Vans Inc yang diwakili oleh kuasa hukumnya dari kantor hukum Hadiputranto Hadinoto and Partner, menggugat pengusaha lokal Kim Sung Soo.
Dalam dokumen gugatannya, penggugat memohon agar pengadilan membatalkan lima merek Vans dan logo yang terdaftar atas nama tergugat, yakni IDM000113990, IDM000108582, IDM000188574, IDM000135960, dan IDM000135962.
Penggugat menilai tergugat telah beritikad tidak baik dalam mendaftarkan kelima merek Vans dan logo itu di Direktorat Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Dengan adanya putusan tersebut, maka pemilik perusahaan sepatu Vans di Indonesia harus menganti mereknya. Selain itu mereka juga didenda untuk menggantikan biaya peradilan.
Dalam sidang putusan gugatan hak merek di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Hakim Ketua Bayu Isdiatmoko mengatakan tergugat yakni Kim Sung Soo terbukti telah mendaftarkan merek Vans pada 21 Maret 2007 dalam kategori Kelas 18.
"Dan merek Vans of The Top yang didaftarkan tersebut di atas mempunyai kepentingan hak, bahwa kemudian perlu dipertimbangkan, bahwa memiliki persamaan pada pokoknya dengan penggugat (Vans Inc)," ujar Bayu di Kantor Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Senin (30/08/2010).
Oleh sebab itu, lanjut Bayu karena ada unsur-unsur yang menonjol antara merek satu dengan yang lain serta kesamaan bentuk dan tulisan atau kombinasi Majelis berpendapat terdapat persamaan pada pokoknya.
"Dipertimbangkan bahwa merek tergugat didasarkan itikad tidak baik, bahwa permohonan dengan itikad tidak baik adalah untuk mendompleng, membonceng. Merek Vans Inc (penggugat) adalah merek terkenal dan penggunaan merek tergugat dapat mengecoh," papar Bayu.
Bayu melanjutkan, majelis berkesimpulan merek tergugat didaftarkan atas itikad tidak baik.
"Gugatan penggugat (Vans Inc) dikabulkan seluruhnya. Mengadili menolak eksepsi tergugat dengan pokok perkara mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya," jelas Bayu.
Sebelumnya, gugatan Vans Inc melawan Kim Sung Soo ini adalah berkaitan dengan terkait dengan sengketa merek Vans, di mana sidang siang ini digelar dengan agenda kesimpulan.
Dalam berkas gugatan yang didaftarkan di bawah registrasi No.39/MEREK/2010/PN.NIAGA.JKT.PST, Vans Inc yang diwakili oleh kuasa hukumnya dari kantor hukum Hadiputranto Hadinoto and Partner, menggugat pengusaha lokal Kim Sung Soo.
Dalam dokumen gugatannya, penggugat memohon agar pengadilan membatalkan lima merek Vans dan logo yang terdaftar atas nama tergugat, yakni IDM000113990, IDM000108582, IDM000188574, IDM000135960, dan IDM000135962.
Penggugat menilai tergugat telah beritikad tidak baik dalam mendaftarkan kelima merek Vans dan logo itu di Direktorat Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Dengan adanya putusan tersebut, maka pemilik perusahaan sepatu Vans di Indonesia harus menganti mereknya. Selain itu mereka juga didenda untuk menggantikan biaya peradilan.
·
Jumat, 11 Januari 2013
Vans Gugat Merek Warga Korea Selatan
Warga Negara Korea Selatan dituding VANS mendompleng
dan mencatut merek sepatu asal Amerika Serikat itu.
Di
salah satu jalan kota Anheim, California pada 1966, berdiri sebuah toko sepatu
dan pakaian olahraga papan luncur Vans. Toko ini dahulunya berada di bawah
perusahaan Van Doren Rubber Company yang didirikan oleh dua bersaudara, James
Van Doren dan Paul Van Doren tepatnya pada 16 Maret 1966.
Toko
ini cukup unik. Konsumen boleh memilih sendiri desain sepatu sesuai
keinginannya. Alhasil, perusahaan yang kemudian berganti nama menjadi Vans Inc
ini memiliki tujuh puluh toko di seantero Amerika Serikat pada 1970.
Perusahaan
ini telah memproduksi puluhan merek Vans dengan varian-variannya. Pada 1999, VANS
menggandeng peselancar tenar, Geoff Rowley sebagai ikon Vans. Produsen ini pun
meluncurkan sepatu edisi khusus Geoff yang dinamakan Rowley XL-2.
Merek-merek
ini telah terdaftar dan berinvestasi di banyak negara, seperti Argentina, Cili,
Filipina, Inggris, Perancis, dan Belanda, termasuk Indonesia. Strategi
investasi yang dipakai merek ini dalam mengembangkan dan memasarkan produknya
adalah dengan membuat situs resmi dengan memakai bahasa dan nama domain lokal,
seperti di Brazil, Taiwan, Hong Kong, dan Argentina.
Tapi,
kemapanan Vans Inc "terganggu". Karena produsen itu melihat ada
produk sepatu dan pakaian olahraga papan luncur yang memakai merek yang sama.
Merek
ini digunakan oleh pria yang berkewarganegaraan Korea Selatan dan berdomisili
di Indonesia, Kim Sung Soo. Merasa tak terima, Vans Inc menggugat Kim Sung Soo
ke Pengadilan Niaga Jakarta pada November 2012. Vans Inc melayangkan gugatan
pembatalan merek. Agenda persidangan memasuki tahap jawaban, Kamis (10/1).
Adapun
dalil yang digunakan Vans Inc adalah perusahaan ini mengkalim sebagai pemilik
pertama dan pemilik sah dari merek VANS dan varian-variannya. Serta, Vans Inc
juga merasa sebagai merek terkenal, terlihat dari gencarnya promosi yang
dilakukan di berbagai negara untuk mengembangkan produk-produknya. Begitu juga
dengan investasi.
Pengakuan
sebagai pemilik pertama yang sah dan merek terkenal bukanlah isapan jempol.
Rupanya, Vans Inc dan Kim Sung Soo telah dua kali berperkara yang sama di
pengadilan. Dan, pengadilan memutuskan merek Vans Inc sebagai pemilik pertama
yang diperkuat Mahkamah Agung.
Pengadilan
juga mengakui merek ini sebagai merek terkenal. Hal ini terlihat dari putusan
Mahkamah Agung Nomor 042K/N/HaKI/2006 dan putusan Mahkamah Agung Nomor
960K/Pdt.Sus/2010. Perkara ini membuat perusahaan asal Paman Sam merasa kecewa
karena pihaknya telah memenangkan dua perkara pembatalan pendaftaran atas merek
VANS ini, tetapi tetap dicatut.
"Ini
mengecewakan," tulis kuasa hukum Vans Inc Adolf M Panggabean dalam berkas
gugatannya.
Atas
hal ini, Vans Inc menuding telah mendompleng dan mencatut merek dan model
produknya. Tindakan ini akan menimbulkan kebingungan di kalangan konsumen.
Pasalnya, produk-produk dari Kim Sung Soo memiliki persamaan pada pokoknya
dengan produk Vans Inc. Bahkan, Kim Sung Soo juga meniru edisi khusus Rowley
XL-2. Padahal, Geoff Rowley sama sekali tidak pernah berkerjasama dengan Kim
Sung Soo.
Berdasarkan
Pasal 68 ayat (1) juncto Pasal 6 ayat (1) huruf b UU No.15 Tahun 2001, merek
tersebut harus dibatalkan dari Daftar Umum Merek. Lebih lanjut, Adolf juga
mengimbau Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk lebih teliti dan
bijaksana dalam mengambil keputusan mengingat Indonesia sejak 1 Januari 2000
telah menjadi anggota TRIPS.
Menanggapi
hal ini, kuasa hukum Kim Sung Soo, Vosma Panjaitan menolak tudingan telah
membajak merek Vans. Menurutnya, suatu merek jangan hanya melihat dari unsur
kata saja, tetapi juga melihat secara keseluruhan, yaitu kata dan logonya.
Malah
Kim Sung Soo menuding balik bahwa VANS Inc lah yang memiliki iktikad tidak
baik. Hal ini terlihat dari penggugat yang pernah ingin mendaftarkan produknya
di Korea Selatan, tetapi ditolak. Ini akan dibuktikan Kim Sung Soo dalam
pembuktian nanti.
Terkait
dalil merek terkenal, Udin juga menolak dalil itu. Ia mengakui suatu merek
dapat dikatakan terkenal salah satunya adalah promosi yang gencar. "Tapi,
apakah dia (Vans Inc, red) berinvestasi di sini," tanya si kuasa hukum.
·
Selasa, 14 September 2010.
Pemilik Merek Vans Bertekad Kasasi
Setelah kalah pada pengadilan
tingkat pertama, berdasarkan putusan majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta,
Senin lalu (30/8), Kim Sung Soo bertekad akan mengajukan kasasi. Kim adalah
pemilik merek Vans yang pendaftarannya dibatalkan oleh majelis hakim karena
dianggap membonceng merek terkenal asal Amerika Serikat.
Pernyataan
akan melakukan kasasi disampaikan kuasa hukum Kim, Trizal Fino kepada
hukumonline melalui telepon, Selasa (14/9). Menurut Trizal, kliennya mengajukan
kasasi karena menganggap majelis hakim salah dalam menerapkan hukum.
Dalam putusannya, majelis yang
diketuai Bayu Isdiyatmoko mengabulkan seluruh gugatan pembatalan merek yang
diajukan Vans Inc. Majelis menilai merek Vans dan variasinya milik Kim memiliki
persamaan pada pokoknya dengan merek Vans milik penggugat. Terdapat persamaan
pada pokoknya, baik pada bentuk huruf, cara pengucapan, maupun cara penulisan.
Putusan majelis sekaligus menyatakan
merek Vans milik Vans Inc merupakan merek terkenal. Merek Vans milik Kim
dinilai majelis berpotensi mengecoh konsumen yang mengira terdapat hubungan
antara merek Vans milik Kim dengan merek Vans milik Vans Inc. Majelis
menyatakan Kim Sung Soo sebagai pendaftar dengan itikad tidak baik
Sementara itu, upaya hukumonline
menghubungi kuasa hukum Vans Inc tidak membuahkan hasil. Saat dihubungi
hukumonline, nomer seluler Riyo Hanggoro Prasetyo tidak aktif.
·
Selasa, 31 Agustus 2010
Vans Inc Berhasil Libas Pemilik Merek Vans Lain
Putusan majelis hakim sekaligus menyatakan merek Vans sebagai merek
terkenal.
Pengadilan
Niaga Jakarta membacakan putusan gugatan pembatalan merek yang diajukan Vans
Inc, Senin (30/8). Majelis hakim yang diketuai Bayu Isdiyatmoko, mengabulkan seluruh gugatan produsen sepatu asal Amerika
Serikat ini.
Dalam
pertimbangannya, majelis menilai merek Vans dan variasinya milik Kim Sung Soo memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek Vans milik
penggugat. Terdapat persamaan pada pokoknya, baik pada bentuk huruf, cara pengucapan, maupun cara penulisan.
Putusan
majelis sekaligus menyatakan merek Vans milik Vans Inc merupakan merek
terkenal. Majelis melihat, merek Vans milik penggugat telah terdaftar di
beberapa negara antara lain: Indonesia, Argentina, India, Hong Kong, dan Chili.
Selain itu, majelis melihat Vans Inc telah melakukan promosi yang gencar di
dalam dan luar negeri.
Majelis
menilai, merek Vans milik Kim Sung Soo bisa mengecoh konsumen.
Konsumen bisa mengira terdapat hubungan antara merek Vans milik Kim Sung Soo
dengan merek Vans milik Vans Inc. Sehingga, Majelis menyatakan Kim Sung Soo
sebagai pendaftar dengan itikad tidak baik.
Karena
merek penggugat merupakan merek terkenal, dan terdapat persamaan pada pokoknya
dengan merek milik tergugat, maka majelis menyatakan merek tergugat harus
dibatalkan.
Meskipun
beberapa merek tergugat berada dalam kelas yang berbeda dengan merek penggut,
majelis tetap menyatakan merek-merek itu harus dibatalkan dengan berdasarkan
Pasal 16 ayat (3) TRIPS.
Merek Milik Tergugat yang Dibatalkan
No
|
Merek
|
No. Pendaftaran
|
Tanggal Pendaftaran
|
Kelas Barang
|
1
|
Vans
|
IDM000113990
|
21 Maret 2007
|
kelas 18
|
2
|
Vans off the Top
|
IDM000108582
|
31 Januari 2007
|
kelas 25
|
3
|
Vans
|
IDM000188574
|
6 Januari 2009
|
kelas 25
|
4
|
4 CE Vans
|
IDM000135960
|
20 September 2007
|
kelas 25
|
5
|
KS2 Vans
|
IDM000135962
|
20 September 2007
|
kelas 25
|
Ditemui
usai sidang, kuasa hukum Kim Sung Soo, Trizal Fino menyatakan
menerima putusan hakim. Terkait upaya hukum, Trizal menyatakan belum menentukan
langkah selanjutnya. Dia ingin berkonsultasi dengan kliennya dahulu untuk
menentukan apakah akan menempuh kasasi atau tidak.
Sementara
kuasa hukum Vans Inc, Riyo Hanggoro Prasetyo enggan berkomentar atas putusan
Majelis Hakim.
Sebelumnya,
Vans Inc mengajukan gugatan pembatalan merek milik pengusaha asal Korea Kim Sung Soo. Lima merek yang didaftarkan atas nama Kim Sung Soo dianggap
memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek-merek milik Vans Inc.
Vans
Inc sendiri memiliki ratusan merek yang telah terdaftar di berbagai Negara. Di
antaranya yang terdaftar di Indonesia, Off the
Wall dengan No. 349512 tanggal 12 Desember 1955 dalam kelas 25, Vans, dengan
No.495769, tanggal 11 Desember 2001 di kelas 25, Off The Wall dengan No.
IDM00028052 tanggal 26 januari 2005, Vans No. IDM00049079, tanggal 8 September
2005, dan Vans dengan No. 458963 tanggal 20 Desember 2000 di kelas 3.
Sumber:
·
http://azrycaniago.blogspot.co.id/2015/05/vans-inc.html
·
http://www.sneakersholic.com/2015/04/daftar-alamat-vans-store-resmi-di-indonesia.html
·
http://www.vans.com
·
http://finance.detik.com/read/2010/08/30/142055/1431128/4/
·
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4c7c6bf9388bc/vans-inc-berhasil-libas-pemilik-merek-vans-lain
·
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4c8fa022d8a4b/pemilik-merek-vans-bertekad-kasasi
·
http://allinderi.blogspot.co.id/2015/08/hai-ketemu-lagi-bersama-saya-di-all.html
·
http://labsky2012.blogspot.co.id/2012/08/tugas5-perkembangan-vans-off-wall.html
http://murahgrosir.com/sejarah-berdirinya-vans/



















